Search

Search Engine

Search Engine

Jumat, 26 Desember 2014

Maleficent (2014) BluRay 360p + Subtitle Indonesia

Maleficent (2014)



maleficent-bluray.jpg
zvbzx21.png
Released Date 30 May 2014
Country USA
Language English
Genre Action | Adventure
Director Robert Stromberg
Writers Linda Woolverton
Starcast Angelina Jolie, Elle Fanning,
Info IMDb imdb_icon.gif
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Lupakan sejenak keberadaan Angelina Jolie di posisi terdepan, pertanyaan pertama yang hadir dari Maleficent adalah apa yang ia ingin gambarkan mengingat statusnya sendiri yang merupakan seorang villain? Kejahatan? Ternyata tidak, ini bukan film dimana penjahat murni hanya menjalankan tugasnya sebagai penjahat di panggung utama, karena secara mengejutkan ia punya kehangatan sederhana sebuah cinta pada dongeng yang telah mendapat sedikit perputaran kecil itu. Maleficent, a good enough brave and modern fairytale reimagining.

Ketika ia masih muda Maleficent (Isobelle Molloy) memiliki sebuah mimpi untuk menyatukan kesenjangan antara dua kerajaan besar yang terpisahkan oleh sebuah lembah, kerajaan berisikan para manusia dan kerajaan tempat ia tinggal, The Moors, alam para peri. Tekad tersebut semakin besar ketika Maleficent bertemu dengan manusia yang tersesat di hutan mereka, Stefan (Michael Higgins), anak Raja Henry yang langsung menghadirkan rasa cinta di hati Maleficent, bahkan telah bergerak serius dengan memberikan sebuah ciuman yang ia sebut “ciuman cinta sejati.”

Namun kisah mereka kandas setelah Stefan menghilang dalam jangka waktu yang sangat lama. Stefan (Sharlto Copley) kembali datang ke The Moors ketika ia telah dewasa, namun sayangnya dengan membawa niat berbeda, yang kemudian membuat Maleficent (Angelina Jolie) murka. Rasa patah hati itu berujung niat balas dendam, bersama dengan orang kepercayaannya, Diaval (Sam Riley), Maleficent mendatangi kerajaan para manusia dan kemudian memberikan kutukan pada sasaran utamanya, putri Stefan. Maleficent menyihir Princess Aurora (Elle Fanning) akan jatuh kedalam sebuah tidur panjang menjelang ulang tahunnya yang ke 16, dan hanya dapat bangun setelah mendapatkan sebuah ciuman cinta sejati, hal yang dipercaya oleh Maleficent tidak pernah eksis dan turut menciptakan rasa ragu didalam dirinya.

Naskah merupakan sumber utama yang menyebabkan daur ulang dengan sedikit sentuhan berbeda dari kisah Sleeping Beauty yang terkenal itu gagal mencapai potensi yang ia punya. Ya, sesungguhnya jika berbicara potensi Maleficent berada pada level yang cukup besar terlepas dari hadirnya Angelina Jolie sebagai “power” di sisi lain, bagaimana ketika semua alur yang mungkin telah menjadi hafalan bagi mayoritas penontonnya dari kutukan hingga ciuman sejati itu coba untuk sedikit dilukai dengan memutar posisi dari para karakter, menempatkan si baik yang kini harus puas hanya memegang peran pendukung dengan segala keterbatasan gerak dan kontribusi, dan kemudian menaruh si jahat dengan peran fokus utama sebagai pusat dan juga subjek yang menggerakkan cerita.

Menarik, terlebih dengan kehadiran narator lewat suara Janet McTeer, Robert Stromberg berhasil menciptakan impresi awal yang memikat. Pergantian point of view itu tidak mengganggu, Mistress of All Evil itu langsung klik pada posisinya dan dari sana sosok yang pernah terlibat pada Avatar, Alice in Wonderland, dan Oz the Great and Powerful ini mulai merajut cerita yang ditulis ulang oleh Linda Woolverton kedalam sebuah dunia yang bukan hanya mampu membawa kembali fantasi itu namun juga memberikan posisi yang sangat nyaman bagi penontonnya.

Mengejutkan, Maleficent mampu menghadirkan alur cerita yang terus mengalir dengan baik meskipun di lain sisi tampak sangat jelas ia menunggu datangnya babak akhir dengan berjalan mondar-mandir seolah tanpa tujuan yang kuat. Hal tadi setidaknya mampu membuang kesempatan bagi hal-hal minus minor lain seperti dinamika cerita yang liar dan sering terputus-putus serta pengembangan karakter yang gelap itu untuk menghancurkan perhatian penontonnya pada point utama yang ia usung, hati nurani.

Ya, ini bukan sebatas pertarungan antara si jahat dan si baik yang ditempatkan hanya sebagai cover, Robert Stromberg merubahnya menjadi sedikit lebih dewasa dengan sentuhan feminism yang kuat, menempatkan kompleksitas emosi terhadap masalah yang dimiliki oleh karakter Maleficent untuk menarik simpati penontonnya. Maleficent seperti gabungan antara Despicable Me dengan Frozen, punya unsur hitam pada karakter lengkap dengan misteri dangkal, berupaya untuk memanusiakan karakter jahat sembari mencoba menggambarkan makna cinta dari sudut yang berbeda. Sangat mudah untuk masuk dan terlibat dalam cerita, penyebabnya adalah Robert Stromberg paham bagaimana menjadikan kisah ini terus tampil mengkilap, terus membuat penontonnya terjaga saat mengikuti plot cerewet yang terlalu sibuk untuk mengemis atensi, dari tingkah komikal konyol tiga peri (Imelda Staunton, Juno Temple, Lesley Manville) yang menjadi versi imut dari Three Stooges dengan kontribusi tidak kuat, hingga aksi bermain-main yang sebenarnya disengaja untuk mempertebal gejolak emosi Maleficent tapi sayangnya tidak semua terasa penting.

Ya, mixed memang, ia punya inti yang kuat meskipun predictable, tapi cara Linda Woolverton memanjangkan cerita untuk memperdalam senjata utamanya itu yang terasa lemah, memasukkan nafas modern kedalam cerita asli terasa kurang klik di beberapa bagian. Ada pula kesan ambigu yang kuat disini, pergeseran pada motif utama yang seperti dibiarkan bergerak bebas oleh Robert Stromberg, berubah secara berkala yang sayangnya tidak dibantu dengan kontrol yang baik pada kombinasi kecepatan gerak dan juga naskah, penceritaan sering kali terasa kurang intens yang menyebabkan resolusi terasa canggung. Hal yang sama juga terjadi pada adegan aksi yang tidak semua mampu menjadi bumbu yang mengesankan bagi cerita. So, what makes it work? Angelina Jolie.

Terlepas dari naik dan turunnya performa dari karakter miliknya sepanjang cerita, dengan tulang pipi prosthetics yang terinspirasi dari cover album Lady Gaga, mata tajam, dan tanduk di atas kepala Angelina Jolie mampu menjalankan tugasnya sebagai tumpuan utama untuk terus membawa maju cerita, ia mampu menghadirkan kompleksitas dari perasaan seorang wanita yang ditemani dengan kedalaman emosi yang mumpuni, hal yang mampu menarik simpati penonton pada konflik internal yang ia punya. Kinerja yang baik mengingat Jolie hanya sedikit dibantu oleh Elle Fanning dan Sam Riley, dan harus kehilangan Sharlto Copley yang tidak punya kesempatan lebih untuk menjalankan tugasnya sebagai “real enemy.”

Overall, Maleficent adalah film yang cukup memuaskan. Punya keseimbangan dalam plus dan minus, Maleficent sangat bergantung pada interpretasi penonton terhadap cerita yang telah sedikit diputar ini. Ini bukan tentang penjahat melakukan tugasnya sebagai penjahat, Maleficent mencoba membawa dongeng klasik itu menjadi sebuah pertarungan internal yang sedikit dewasa dan sedikit kompleks dengan bertumpu sepenuhnya pada sisi emosional, ia kemas dengan sedikit bersenang-senang bersama elemen teknis yang cukup terampil dan gerak mondar- mandir yang canggung. Petualangan cukup menyenangkan yang gagal meraih potensi penuh pesona yang ia punya.

maleficent-maleficent-2014-37052303-1279
Maleficent-flying.png
maleficent3.jpg

Download film Maleficent (2014) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality: 360p
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 37 Menit - 28 Detik
Size: 234 MB
SS:
Maleficent_2014_Blu_Ray_Ryemovies_mp4_th
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/fl2f4yapor7y
SB: http://adf.ly/rzGp1
UF: http://adf.ly/tJN8f
US: http://adf.ly/rzIP0
HF: http://adf.ly/rzGp3
UP: http://adf.ly/rzGp4
BU: http://adf.ly/rzGp5

Subtitle: br-mlficent-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

Night at the Museum 2: Battle of the Smithsonian (2009) BluRay 720p + Subtitle Indonesia

Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009)



nightatthemuseum2-2009.jpg
zvbzx21.png
Released Date 22 May 2009 (USA)
Country USA | Canada
Language English
Genre Action | Adventure
Director Shawn Levy
Writers Robert Ben Garant
Starcast Ben Stiller, Owen Wilson
Info IMDb imdb_icon.gif
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Sejak hasil temuannya dipatenkan, Larry Daley (Ben Stiller) berhasil mendapat banyak uang dan memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai penjaga museum. Namun ketika American Museum of Natural History direnovasi dan seluruh isi museum ini dipindahkan ke Smithsonian Institution di Washington Larry tak punya pilihan lain selain menyusul ke Washington.

Larry khawatir kalau 'kejadian buruk' yang sempat menimpanya sebelum berhenti menjadi petugas keamanan akan terulang lagi dan sepertinya kekhawatiran Larry ini beralasan. Seperti kasus yang terjadi sebelumnya, Larry kembali harus berurusan dengan benda-benda museum yang tiba- tiba bangkit dan mengacaukan seluruh isi museum. Kali ini yang jadi penyebab masalah adalah Ahkmenrah (Rami Malek), firaun jahat yang bermaksud membangkitkan seluruh isi museum.

Terpaksa Larry harus berhadapan dengan seluruh tokoh sejarah yang peninggalannya tersimpan di dalam Smithsonian. Ini bukanlah pekerjaan mudah karena Smithsonian memiliki koleksi 136 juta barang dari masa lalu. Bayangkan betapa kacaunya ketika Amelia Earhart, Al Capone, Theodore Roosevelt, Napoleon Bonaparte, Albert Einstein, Charles Darwin hingga Attila the Hun semuanya bangkit dari kubur.

Menonton film ini tak ubahnya seperti mengenang kembali kisah yang sudah lewat. Tak banyak yang berubah pada film ini jika dibandingkan dengan Night at the Museum (2006) yang dilepas sekitar dua tahun sebelumnya itu. Malahan film ini lebih tepat dibilang reboot ketimbang sebuah sekuel. Yang ada cuma kejadian yang sama dan tokoh yang sama dengan lokasi yang baru. Ada kesan seolah sutradara dan penulis naskah tak puas dengan film yang pertama dan ingin membuatnya lebih 'kolosal'.

Dan kalau memang ini yang dimaksud, pemilihan Smithsonian sebagai lokasi jelas tak salah. Museum Smithsonian hampir dua puluh kali lebih besar dari Natural History Museum (lokasi film pertama) dan ini memberikan ruang untuk lebih kreatif.

Selain Ben Stiller, sebagian besar karakter dari film pertama juga ikut kembali bermain dalam film ini dan itu makin menguatkan asumsi bahwa film ini adalah reboot. Beberapa karakter baru pun dimunculkan untuk mengisi 'ruang' yang lebih besar ini dan hasilnya adalah 'kekacauan' yang lebih besar dari film pertama.

Perbedaan lain yang tak terlalu menyolok mungkin adalah nada komedi yang mulai bergeser ke arah 'lebih dewasa'. Sayang, karena film ini sebenarnya lebih punya potensi sebagai film komedi untuk keluarga seperti film yang pertama. Tapi secara keseluruhan, film ini terasa lebih bagus dari film pertamanya. Ide 'mengajak orang kembali menengok sejarah' memang patut diacungi jempol (satu lagi alasan untuk menyebut film ini sebagai reboot).

Night-at-the-Museum-Battle-of-the-Smiths
Night-at-the-Museum-Battle-of-the-Smiths
22night600.1.jpg

Download film Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009) BluRay 720p
File Format : MKV
Resolusi: 720p
Durasi: 1 Jam - 44 Menit - 43 Detik
Size: 799.0 MB
SS:
Night_at_the_Museum_Battle_of_the_Smiths
IDUP.IN: http://idup.in/axonst7423zo
MyLinkGen:
http://mylinkgen.com/p/MTkxMA

Subtitle: br-nghtmuseum-2-2009.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

Night at the Museum 2: Battle of the Smithsonian (2009) BluRay 360p + Subtitle Indonesia

Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009)



nightatthemuseum2-2009.jpg
zvbzx21.png
Released Date 22 May 2009 (USA)
Country USA | Canada
Language English
Genre Action | Adventure
Director Shawn Levy
Writers Robert Ben Garant
Starcast Ben Stiller, Owen Wilson
Info IMDb imdb_icon.gif
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Sejak hasil temuannya dipatenkan, Larry Daley (Ben Stiller) berhasil mendapat banyak uang dan memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya sebagai penjaga museum. Namun ketika American Museum of Natural History direnovasi dan seluruh isi museum ini dipindahkan ke Smithsonian Institution di Washington Larry tak punya pilihan lain selain menyusul ke Washington.

Larry khawatir kalau 'kejadian buruk' yang sempat menimpanya sebelum berhenti menjadi petugas keamanan akan terulang lagi dan sepertinya kekhawatiran Larry ini beralasan. Seperti kasus yang terjadi sebelumnya, Larry kembali harus berurusan dengan benda-benda museum yang tiba- tiba bangkit dan mengacaukan seluruh isi museum. Kali ini yang jadi penyebab masalah adalah Ahkmenrah (Rami Malek), firaun jahat yang bermaksud membangkitkan seluruh isi museum.

Terpaksa Larry harus berhadapan dengan seluruh tokoh sejarah yang peninggalannya tersimpan di dalam Smithsonian. Ini bukanlah pekerjaan mudah karena Smithsonian memiliki koleksi 136 juta barang dari masa lalu. Bayangkan betapa kacaunya ketika Amelia Earhart, Al Capone, Theodore Roosevelt, Napoleon Bonaparte, Albert Einstein, Charles Darwin hingga Attila the Hun semuanya bangkit dari kubur.

Menonton film ini tak ubahnya seperti mengenang kembali kisah yang sudah lewat. Tak banyak yang berubah pada film ini jika dibandingkan dengan Night at the Museum (2006) yang dilepas sekitar dua tahun sebelumnya itu. Malahan film ini lebih tepat dibilang reboot ketimbang sebuah sekuel. Yang ada cuma kejadian yang sama dan tokoh yang sama dengan lokasi yang baru. Ada kesan seolah sutradara dan penulis naskah tak puas dengan film yang pertama dan ingin membuatnya lebih 'kolosal'.

Dan kalau memang ini yang dimaksud, pemilihan Smithsonian sebagai lokasi jelas tak salah. Museum Smithsonian hampir dua puluh kali lebih besar dari Natural History Museum (lokasi film pertama) dan ini memberikan ruang untuk lebih kreatif.

Selain Ben Stiller, sebagian besar karakter dari film pertama juga ikut kembali bermain dalam film ini dan itu makin menguatkan asumsi bahwa film ini adalah reboot. Beberapa karakter baru pun dimunculkan untuk mengisi 'ruang' yang lebih besar ini dan hasilnya adalah 'kekacauan' yang lebih besar dari film pertama.

Perbedaan lain yang tak terlalu menyolok mungkin adalah nada komedi yang mulai bergeser ke arah 'lebih dewasa'. Sayang, karena film ini sebenarnya lebih punya potensi sebagai film komedi untuk keluarga seperti film yang pertama. Tapi secara keseluruhan, film ini terasa lebih bagus dari film pertamanya. Ide 'mengajak orang kembali menengok sejarah' memang patut diacungi jempol (satu lagi alasan untuk menyebut film ini sebagai reboot).

Night-at-the-Museum-Battle-of-the-Smiths
Night-at-the-Museum-Battle-of-the-Smiths
22night600.1.jpg

Download film Night at the Museum 2: Battle of the Smithsonian (2009) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality: 360p
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 44 Menit - 43 Detik
Size: 241 MB
SS:
Night_at_the_Museum_Battle_of_the_Smiths
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/w2lag17v624d
SB: http://adf.ly/rfOgP
UF: http://adf.ly/rfOgQ
US: http://adf.ly/rfOgS
HF: http://adf.ly/rfOgU
UP: http://adf.ly/rfOgV
BU: http://adf.ly/rfOgW

Subtitle: br-nghtmuseum-2-2009.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

The Amazing Spider-Man 2 [BRRip] 360p + Subtitle Indonesia

The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (2014)



the-amazing-spider-man-2.jpg
zvbzx21.png
Released Date 2 May 2014 (USA)
Country USA
Language English
Genre Action | Adventure | Fantasy
Director Marc Webb
Writers Alex Kurtzman
Starcast Andrew Garfield
Info IMDb imdb_icon.gif
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Di edisi pertama reboot miliknya dua tahun lalu itu superhero jenius dengan gerak cepat dan refleks yang memikat ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak menjadi sesuatu yang totally useless ketika kembali beraksi bersama tubuh dibalut latex ketat itu hanya lima tahun setelah ia melakukan aksi terakhirnya. Sukses menampar sikap pesimis, beban yang sedikit berkurang, edisi kedua ini berhasil tampil lepas untuk menawarkan kembali cerita familiar itu dalam sebuah petualangan yang menyenangkan masih dengan aksi terbang dan melayang di antara gedung pencakar langit kota New York. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, when music and action sequence kill a bit draggy story minus. I'll simply say it's on again, it's on again.

Cute couple itu harus meninggalkan sekolah tempat mereka bertemu yang ditandai dengan acara upacara wisuda kelulusan, momen dimana Gwen Stacy (Emma Stone) menyampaikan pidatonya sementara disisi lain Peter Parker (Andrew Garfield) masih harus menyelamatkan kota New York dari aksi brutal seorang Russian Mobster bernama Aleksei Sytsevich (Paul Giamatti).

Semua memang berakhir indah, namun dari sana pula awal dari kemunculan bayangan yang selalu mencoba mengingatkan Peter pada janjinya untuk menjauh dari Gwen, menyebabkan kisah manis yang mereka punya berubah menjadi rumit. Paska peristiwa tersebut Peter memutuskan untuk kembali menuntaskan hasrat miliknya dengan mencari tahu keberadaan ayahnya (Campbell Scott).

Hal tersebut ternyata menyimpan sebuah fakta yang membawa Peter menuju Oscorp, perusahaan atau kerajaan bisnis yang memiliki pemimpin baru setelah ditinggal Norman Osborn (Chris Cooper) dan kini dikendalikan oleh Harry Osborn (Dane DeHaan), sahabat karib Peter yang masih bergelut dengan masalah pribadi, yang celakanya tidak tahu telah hadir monster baru yang berasal dari perusahaannya, seorang pekerja listrik bernama Max Dillon (Jamie Foxx) yang hanya ingin keluar dari kesepian dan memperoleh perhatian.

Menilik sinopsis diatas tadi akan hadir kesan ambigu pada misi utama yang ingin dicapai oleh The Amazing Spider-Man 2, banyak masalah yang potensial untuk dikembangkan namun faktanya mayoritas dari mereka tidak memperoleh sentuhan yang cukup dalam pada tahap eksekusi. Yap, timbunan konflik yang gemuk itu pada akhirnya memang akan terkesan dipaksa untuk mampu menyelip masuk kedalam alur cerita dengan berbagai isu, dari menciptakan ruang cerita untuk arena kreatifitas adegan aksi lewat Max Dillon, future plan yang tidak bisa dibuang pada sosok Harry, hingga pemanis tambahan pada Aleksei.

Berantakan, sedikit tidak konsisten, tapi masalahnya adalah Marc Webb tetap berhasil membentuk ini menjadi sajian berantakan yang menghibur. Aneh memang karena dibalik segala kekacauan yang mayoritas masih di isi dengan hal lama pada elemen script sulit pula untuk tidak mengakui bahwa The Amazing Spider-Man 2 mampu memberikan unsur fun yang terasa pas selama 142 menit durasi yang ia punya.

Cerita hasil kerja sama Alex Kurtzman, Roberto Orci, dan Jeff Pinkner yang terkesan pemalas dan sedikit terburu-buru dalam gerak berat yang ia hadirkan itu seperti membentuk sebuah rollercoaster, terkadang bermain dengan drama mengandalkan emosi yang coba menelusuri hubungan multi arah antar karakter dengan Peter sebagai sentralnya meskipun cenderung lebih sering berakhir terlalu stabil, dan ketika penonton mulai merasa tenang dan nyaman Marc Webb kemudian menghantam mereka dengan adegan aksi penuh koreografi dan akrobatik dinamis dalam gerak cepat yang presisi dan rapi hasil sentuhan “palsu” yang memikat dari departemen visual efek bersama kualitas 3D yang mumpuni. Hal tersebut yang kerap kali menjadi sumber hadirnya senyuman sembari terus bertanya apa sih sebenarnya maunya film ini.

The Amazing Spider-Man 2 seperti dikemas tanpa eksistensi dinding yang membatasi diri seorang Spider-Man sebagai seorang superhero yang hanya bertugas menyelamatkan penduduk dari bahaya. Memang tidak selevel dengan Spider-Man 2 versi Sam Raimi, tapi tragedi serta kisah romansa itu berhasil ditampilkan oleh Marc Webb yang uniknya ia kemas dengan terus menekankan kesan freestyle didalam penceritaan, bergerak bebas namun punya point-point utama yang berhasil muncul di dalam cerita dan tergambarkan dengan baik, walaupun disamping itu sayangnya mereka hanya sebatas ada karena Marc Webb cenderung lebih asyik bermain-main dengan banyak hal yang punya kapasitas minor.

Ya, The Amazing Spider-Man 2 adalah presentasi yang warna-warni, dan ini kacau sebetulnya, tapi disamping itu keputusan tersebut seolah telah di prediksi oleh mereka. Seperti sebuah perjudian, gambling, mari mencoba tampil sedikit lebih segar dan siap menerima resiko terburuknya, dan hasilnya tidak buruk serta cukup berimbang.

Cerita yang sedikit melelahkan, humor konyol yang cenderung mengandalkan slapstick klasik namun bekerja dengan baik, kurangnya tekanan dan ancaman dari sosok antagonis karena dibentuk dengan tipis tanpa motivasi yang kuat, hingga observasi pada dilema dengan menggunakan kekuasaan, tanggung jawab, resiko, hingga asmara yang juga tampil baik, ada sebuah pertarungan plus dan minus yang menarik dan menghasilkan dinamika cerita yang variatif untuk menyelamatkan ini dari situasi membosankan.

Tapi ada satu hal lainnya yang berhasil menjawab kepercayaan Marc Webb sejak awal disamping aksi balet di medan perang dimana Webb seperti paham kapan momen yang tepat untuk mempermainkan visual untuk menciptakan gambar yang impresif, serta score electronic hasil kolaborasi Hans Zimmer dan Pharrell Williams yang secara mengejutkan tampil kokoh dan mempertajam kesan segar dan kerap mengendalikan tensi serta tempo cerita.

Kisah cinta antara Peter dan Gwen, mereka mengalahkan kepentingan para penjahat dalam cerita untuk memperoleh posisi utama, dan itu terbayarkan lewat eksekusi mumpuni pada sebuah kejutan menjelang akhir. Tidak heran memang ketika kita akan memperoleh kisah cinta yang menjadi bagian dari fokus yang terpecah belah itu dalam bentuk yang impresif, karena Andrew Garfield dan Emma Stone mampu melakukan transfer pada kekuatan cinta yang mereka punya di kehidupan nyata kedalam layar tanpa terkesan berlebihan.

Chemistry tidak megah, namun kuat dan punya ketulusan yang terasa alami sehingga mampu membuat penontonnya tetap rooting kepada mereka ketika kisah cinta itu tergambarkan dalam penceritaan yang kurang bergelora. Andrew Garfield semakin mampu membuat penontonnya yakin bahwa ia Spider-Man yang baru, ia punya kelembutan yang tampil meyakinkan di kala suka dan duka. Emma Stone sendiri sedikit terbatasi ruang geraknya namun mampu membangun karakternya dengan efektif dan tajam.

Pemeran pendukung yang sejak awal sebenarnya turut berkontribusi pada sedikit meningkatnya ekspektasi justru harus puas menjadi bayangan. Mereka tidak punya ruang yang cukup, oke untuk Sally Field yang memang hanya punya satu bagian penting pada cerita, namun tidak dengan Jamie Foxx dan Dane DeHaan. Karakter Green Goblin memang baru sebatas perkenalan, namun ia dapat memberikan bahaya yang jauh lebih kuat. Dan Jamie Foxx seperti terbuang percuma, Electro tampil unthreatening bersama tujuan yang tidak fokus, untung saja Foxx masih mampu menciptakan pondasi yang jelas ketika karakternya masih berada dalam kondisi sederhana terkait ulang tahun dan atensi itu. Paul Giamatti mampu mencuri atensi sesaat, and I really hope Black Cat can be a part in next film to make a bigger room to Felicity Jones.

Overall, The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro adalah film yang cukup memuaskan. Anda dapat menyebutnya sebagai sebuah kemasan berani yang inovatif, sebuah petualangan tidak fokus tanpa motivasi yang kuat, sebuah kisah superhero dengan kedalaman penceritaan yang sedikit berantakan dan juga canggung, sebuah pertunjukkan adrenaline pumping sembari bermain bersama dilema yang digambarkan dengan mumpuni, sebuah video game dalam balutan dramatisasi yang terlalu stabil, hingga sebuah roman manis dan tidak berlebihan yang seolah tidak peduli dengan eksistensi bahaya disekitar mereka. For me, The Amazing Spider-Man 2 is a bold guilty pleasure. It’s an enjoyable stupid fun. I'll simply say it's on again, it's on again.

NEjBNS03wbsHmp_3_b.jpg
the-amazing-spider-man-2-wallpapers-13.j
theamazingspiderman20_1398840501_980x457

Download film The Amazing Spider-Man 2 (2014) Subtitle Indonesia BRRip MP4 High Quality: 360p
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 21 Menit - 34 Detik
Size: 308 MB
SS:
The_Amazing_Spider_Man_2_3014_Blu_Ray_RE
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/ykujvnbld1tr
UF: http://adf.ly/qlrMV
US: http://adf.ly/qlrMW
HF: http://adf.ly/qlrMX
UP: http://adf.ly/qlrMY
BU: http://adf.ly/qlrMZ

Subtitle: br-tasm-2-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

The Amazing Spider-Man 2 [BRRip] 720p + Subtitle Indonesia

The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (2014)



the-amazing-spider-man-2.jpg
zvbzx21.png
Released Date 2 May 2014 (USA)
Country USA
Language English
Genre Action | Adventure | Fantasy
Director Marc Webb
Writers Alex Kurtzman
Starcast Andrew Garfield
Info IMDb imdb_icon.gif
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Di edisi pertama reboot miliknya dua tahun lalu itu superhero jenius dengan gerak cepat dan refleks yang memikat ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak menjadi sesuatu yang totally useless ketika kembali beraksi bersama tubuh dibalut latex ketat itu hanya lima tahun setelah ia melakukan aksi terakhirnya. Sukses menampar sikap pesimis, beban yang sedikit berkurang, edisi kedua ini berhasil tampil lepas untuk menawarkan kembali cerita familiar itu dalam sebuah petualangan yang menyenangkan masih dengan aksi terbang dan melayang di antara gedung pencakar langit kota New York. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, when music and action sequence kill a bit draggy story minus. I'll simply say it's on again, it's on again.

Cute couple itu harus meninggalkan sekolah tempat mereka bertemu yang ditandai dengan acara upacara wisuda kelulusan, momen dimana Gwen Stacy (Emma Stone) menyampaikan pidatonya sementara disisi lain Peter Parker (Andrew Garfield) masih harus menyelamatkan kota New York dari aksi brutal seorang Russian Mobster bernama Aleksei Sytsevich (Paul Giamatti).

Semua memang berakhir indah, namun dari sana pula awal dari kemunculan bayangan yang selalu mencoba mengingatkan Peter pada janjinya untuk menjauh dari Gwen, menyebabkan kisah manis yang mereka punya berubah menjadi rumit. Paska peristiwa tersebut Peter memutuskan untuk kembali menuntaskan hasrat miliknya dengan mencari tahu keberadaan ayahnya (Campbell Scott).

Hal tersebut ternyata menyimpan sebuah fakta yang membawa Peter menuju Oscorp, perusahaan atau kerajaan bisnis yang memiliki pemimpin baru setelah ditinggal Norman Osborn (Chris Cooper) dan kini dikendalikan oleh Harry Osborn (Dane DeHaan), sahabat karib Peter yang masih bergelut dengan masalah pribadi, yang celakanya tidak tahu telah hadir monster baru yang berasal dari perusahaannya, seorang pekerja listrik bernama Max Dillon (Jamie Foxx) yang hanya ingin keluar dari kesepian dan memperoleh perhatian.

Menilik sinopsis diatas tadi akan hadir kesan ambigu pada misi utama yang ingin dicapai oleh The Amazing Spider-Man 2, banyak masalah yang potensial untuk dikembangkan namun faktanya mayoritas dari mereka tidak memperoleh sentuhan yang cukup dalam pada tahap eksekusi. Yap, timbunan konflik yang gemuk itu pada akhirnya memang akan terkesan dipaksa untuk mampu menyelip masuk kedalam alur cerita dengan berbagai isu, dari menciptakan ruang cerita untuk arena kreatifitas adegan aksi lewat Max Dillon, future plan yang tidak bisa dibuang pada sosok Harry, hingga pemanis tambahan pada Aleksei.

Berantakan, sedikit tidak konsisten, tapi masalahnya adalah Marc Webb tetap berhasil membentuk ini menjadi sajian berantakan yang menghibur. Aneh memang karena dibalik segala kekacauan yang mayoritas masih di isi dengan hal lama pada elemen script sulit pula untuk tidak mengakui bahwa The Amazing Spider-Man 2 mampu memberikan unsur fun yang terasa pas selama 142 menit durasi yang ia punya.

Cerita hasil kerja sama Alex Kurtzman, Roberto Orci, dan Jeff Pinkner yang terkesan pemalas dan sedikit terburu-buru dalam gerak berat yang ia hadirkan itu seperti membentuk sebuah rollercoaster, terkadang bermain dengan drama mengandalkan emosi yang coba menelusuri hubungan multi arah antar karakter dengan Peter sebagai sentralnya meskipun cenderung lebih sering berakhir terlalu stabil, dan ketika penonton mulai merasa tenang dan nyaman Marc Webb kemudian menghantam mereka dengan adegan aksi penuh koreografi dan akrobatik dinamis dalam gerak cepat yang presisi dan rapi hasil sentuhan “palsu” yang memikat dari departemen visual efek bersama kualitas 3D yang mumpuni. Hal tersebut yang kerap kali menjadi sumber hadirnya senyuman sembari terus bertanya apa sih sebenarnya maunya film ini.

The Amazing Spider-Man 2 seperti dikemas tanpa eksistensi dinding yang membatasi diri seorang Spider-Man sebagai seorang superhero yang hanya bertugas menyelamatkan penduduk dari bahaya. Memang tidak selevel dengan Spider-Man 2 versi Sam Raimi, tapi tragedi serta kisah romansa itu berhasil ditampilkan oleh Marc Webb yang uniknya ia kemas dengan terus menekankan kesan freestyle didalam penceritaan, bergerak bebas namun punya point-point utama yang berhasil muncul di dalam cerita dan tergambarkan dengan baik, walaupun disamping itu sayangnya mereka hanya sebatas ada karena Marc Webb cenderung lebih asyik bermain-main dengan banyak hal yang punya kapasitas minor.

Ya, The Amazing Spider-Man 2 adalah presentasi yang warna-warni, dan ini kacau sebetulnya, tapi disamping itu keputusan tersebut seolah telah di prediksi oleh mereka. Seperti sebuah perjudian, gambling, mari mencoba tampil sedikit lebih segar dan siap menerima resiko terburuknya, dan hasilnya tidak buruk serta cukup berimbang.

Cerita yang sedikit melelahkan, humor konyol yang cenderung mengandalkan slapstick klasik namun bekerja dengan baik, kurangnya tekanan dan ancaman dari sosok antagonis karena dibentuk dengan tipis tanpa motivasi yang kuat, hingga observasi pada dilema dengan menggunakan kekuasaan, tanggung jawab, resiko, hingga asmara yang juga tampil baik, ada sebuah pertarungan plus dan minus yang menarik dan menghasilkan dinamika cerita yang variatif untuk menyelamatkan ini dari situasi membosankan.

Tapi ada satu hal lainnya yang berhasil menjawab kepercayaan Marc Webb sejak awal disamping aksi balet di medan perang dimana Webb seperti paham kapan momen yang tepat untuk mempermainkan visual untuk menciptakan gambar yang impresif, serta score electronic hasil kolaborasi Hans Zimmer dan Pharrell Williams yang secara mengejutkan tampil kokoh dan mempertajam kesan segar dan kerap mengendalikan tensi serta tempo cerita.

Kisah cinta antara Peter dan Gwen, mereka mengalahkan kepentingan para penjahat dalam cerita untuk memperoleh posisi utama, dan itu terbayarkan lewat eksekusi mumpuni pada sebuah kejutan menjelang akhir. Tidak heran memang ketika kita akan memperoleh kisah cinta yang menjadi bagian dari fokus yang terpecah belah itu dalam bentuk yang impresif, karena Andrew Garfield dan Emma Stone mampu melakukan transfer pada kekuatan cinta yang mereka punya di kehidupan nyata kedalam layar tanpa terkesan berlebihan.

Chemistry tidak megah, namun kuat dan punya ketulusan yang terasa alami sehingga mampu membuat penontonnya tetap rooting kepada mereka ketika kisah cinta itu tergambarkan dalam penceritaan yang kurang bergelora. Andrew Garfield semakin mampu membuat penontonnya yakin bahwa ia Spider-Man yang baru, ia punya kelembutan yang tampil meyakinkan di kala suka dan duka. Emma Stone sendiri sedikit terbatasi ruang geraknya namun mampu membangun karakternya dengan efektif dan tajam.

Pemeran pendukung yang sejak awal sebenarnya turut berkontribusi pada sedikit meningkatnya ekspektasi justru harus puas menjadi bayangan. Mereka tidak punya ruang yang cukup, oke untuk Sally Field yang memang hanya punya satu bagian penting pada cerita, namun tidak dengan Jamie Foxx dan Dane DeHaan. Karakter Green Goblin memang baru sebatas perkenalan, namun ia dapat memberikan bahaya yang jauh lebih kuat. Dan Jamie Foxx seperti terbuang percuma, Electro tampil unthreatening bersama tujuan yang tidak fokus, untung saja Foxx masih mampu menciptakan pondasi yang jelas ketika karakternya masih berada dalam kondisi sederhana terkait ulang tahun dan atensi itu. Paul Giamatti mampu mencuri atensi sesaat, and I really hope Black Cat can be a part in next film to make a bigger room to Felicity Jones.

Overall, The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro adalah film yang cukup memuaskan. Anda dapat menyebutnya sebagai sebuah kemasan berani yang inovatif, sebuah petualangan tidak fokus tanpa motivasi yang kuat, sebuah kisah superhero dengan kedalaman penceritaan yang sedikit berantakan dan juga canggung, sebuah pertunjukkan adrenaline pumping sembari bermain bersama dilema yang digambarkan dengan mumpuni, sebuah video game dalam balutan dramatisasi yang terlalu stabil, hingga sebuah roman manis dan tidak berlebihan yang seolah tidak peduli dengan eksistensi bahaya disekitar mereka. For me, The Amazing Spider-Man 2 is a bold guilty pleasure. It’s an enjoyable stupid fun. I'll simply say it's on again, it's on again.

NEjBNS03wbsHmp_3_b.jpg
the-amazing-spider-man-2-wallpapers-13.j
theamazingspiderman20_1398840501_980x457

Download film The Amazing Spider-Man 2 (2014) BluRay 720p x264
File Format : MKV
Resolusi: 720p
Durasi: 2 Jam - 21 Menit - 34 Detik
Size: 1.2 GB
SS:
The_Amazing_Spider_Man_2_3014_Blu_Ray_RE
IDUP.IN: http://idup.in/hig4lhmn9mj8
MyLinkGen:
http://mylinkgen.com/p/MTYz

Subtitle: br-tasm-2-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8