Search

Search Engine

Search Engine

Sabtu, 20 Desember 2014

Godzilla 2014 [Update:BRRip] + Subtitle Indonesia

Godzilla (2014)



godzilla.jpg
zvbzx21.png
Released Date 16 May 2014
Country USA | Japan
Language English
Genre Action
Director Gareth Edwards
Writers Dave Callaham
Starcast Elizabeth Olsen
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Selalu ada sebuah kesulitan umum dari film dengan status summer blockbuster, harus mampu menghadirkan cerita yang tidak murahan namun disisi lain juga menjauhkan mereka agar tidak mengganggu jualan utamanya pada hiburan visual. Sperti summer movie 2013: Pacific Rim, dan hasilnya berada dibawah ekspektasi, keseimbangan diantara elemen utama yang ia miliki terasa kurang mumpuni. Nah, hal terakhir itu yang secara mengejutkan dimiliki oleh film ini, cerita oke dalam visualisasi kekacauan yang juga oke. Godzilla, a good disaster movie, manipulative orchestra with foreplay narration.

Drs. Ichiro Serizawa (Ken Watanabe) bersama assistennya, Vivienne Graham (Sally Hawkins), bergerak menuju Filipina untuk meneliti sebuah kawah yang terletak pada lokasi tambang uranium. Mereka menemukan sebuah fosil radioaktif didalam bumi yang mengalir menuju lautan. Rasa ragu muncul pada makhluk tersebut, hingga pada akhirnya sebuah bencana hadir dan meninggalkan sebuah luka mendalam bagi seorang fisikawan bernama Joe Brody (Bryan Cranston), yang harus rela menyaksikan istrinya, Sandra (Juliette Binoche), menjadi korban dari runtuhnya powerplant tempat mereka bekerja di Janjira, Jepang ketika sedang menyelidiki aktivitas seismik yang mengganggu.

Luka itu masih belum hilang lima belas tahun kemudian. Tahun 2014 Joe kembali berupaya menuntaskan obsesinya pada peristiwa tersebut, dan bersama anaknya yang kini bekerja sebagai perwira angkatan laut, Ford Brody (Aaron Taylor-Johnson), ia berhasil menemukan sebuah jawaban yang celakanya juga sekaligus menjadi alarm bagi hadirnya sebuah bencana yang lebih besar.

Monster yang telah lama menjadi objek penelitian itu telah siap untuk bangun, dari Hawaii, Las Vegas, hingga San Francisco berupaya untuk menemukan pasangannya, aksi yang turut mengundang kehadiran monster lain yang lebih besar, Godzilla.

Kalimat terakhir pada paragraf pembuka diatas tadi sebenarnya telah cukup mampu untuk menggambarkan secara umum apa saja yang akan diberikan oleh aksi dari monster daikaiju yang memulai kiprahnya dari series tokusatsu ini. Bencana, ya itu tentu saja menjadi fokus utama yang disampaikan masih dengan mengandalkan hancur dan runtuhnya gedung hanya dengan sekali kibasan ringan dari ekor dan juga langkah para monster itu.

Kemudian ada kepanikan manusia, kekacauan skala besar dan dahsyat dipenuhi ketakutan yang menariknya mampu dibentuk dengan efektif oleh Gareth Edwards, bukan hanya pada presentasi di layar namun juga ikut mengajak penonton seolah berada didalam kekacauan tersebut, kegelisahan diselimuti semangat yang terus berjalan dengan hati-hati sembari menebar godaan yang menyenangkan.

Yap, kekuatan utama Godzilla versi Gareth Edwards adalah kemampuan ia untuk menggerakkan cerita hasil perpaduan Max Borenstein dan David Callaham secara perlahan dalam tahapan yang rapi, terkadang memang terasa sedikit menjengkelkan dengan perpindahan cepat dalam durasi tiap scene yang cukup singkat, namun disisi lain tidak pernah gagal untuk terus memupuk rasa penasaran penontonnya.

Ini seperti menyaksikan sebuah orchestra yang manipulatif, mempermainkan penontonnya sedikit demi sedikit dengan menggunakan unsur drama yang beberapa diantaranya bisa saja dibuang dengan mudah, menciptakan sebuah proses membangun cerita yang sangat menuntut rasa sabar karena berpotensi terasa terlalu panjang, dan bersama elemen teknik visual yang memukau saling bahu membahu menyusun set untuk ledakan diakhir cerita. Boom!!! Itu rasa yang akan hadir untuk membayar sikap sabar penontonnya yang ikut dalam aksi foreplay menggoda milik Gareth Edwards.

Ada sebuah rasa puas ketika monster yang hampir di separuh durasi itu seperti disengaja untuk mondar-mandir bermain petak umpet dengan penontonnya, dari penggunaan pintu yang tertutup, berenang di lautan melintasi jembatan, hingga aksi terjun payung di gelapnya malam, meskipun kualitas 3D yang ia berikan kurang megah namun tetap tercipta sensasi demi sensasi yang terus mempertahankan nafas cerita untuk terus menggebu.

Ada momentum yang terus terjaga dengan baik, naik dan turun, kondisi tenang yang kemudian dihantam oleh lengkingan ikonik Gojira yang kini tampil sedikit serak, sebuah kinerja yang terhitung solid jika menilik bantuan yang ia peroleh dari cerita yang masih tampil dengan ciri khas lamanya.

Sulit memang untuk mengharapkan sebuah drama yang kuat dari sebuah film yang menaruh fokusnya pada “kekacauan” sebagai jualan utama. Cara dari Gareth Edwards untuk membangun materi yang ia punya pada unsur drama sebenarnya dapat dikatakan sudah cukup bagus, terkesan lambat seolah memberi kesempatan pada penontonnya untuk dekat dengan karakter manusia dan monster itu sendiri sebagai upaya untuk menekankan isu sosial, namun sayangnya mereka hanya mampu mencapai batas setengah masak, bahkan beberapa terasa mentah. Ada keterlibatan emosi contohnya dengan mengandalkan karakter Elle Brody (Elizabeth Olsen) dan juga Joe Brody, tapi standard dan tidak kuat, tidak ada ledakan yang mumpuni semua dikarenakan fokus pada karakter manusia yang terpecah belah.

Tapi bukankah kita datang menyaksikan Godzilla untuk menikmati aksi Gojira itu sendiri? Mungkin itu pula yang ada dibenak Edwards, ia lebih banyak mengandalkan CGI untuk menciptakan gambar-gambar indah yang membentuk ketegangan dan keintiman penonton dengan cerita, kemudian membatasi ruang bagi drama hingga humor untuk sebatas berperan sebagai pembuka jalan bagi pengungkapan cerita sehingga tidak bergerak terlalu jauh dan tidak mengganggu fokus utama, serta terus melindungi jagoannya itu bahkan dari kekuatan militer tidak seperti yang pernah dilakukan oleh Roland Emmerich.

Kombinasi dari hal-hal tadi meningkatkan daya tarik dari Godzilla itu sendiri, membuat statusnya bukan hanya sebuah boneka kurang kerjaan yang bergerak random, hal yang menyebabkan konklusi dibagian akhir mampu membungkus dengan manis misi yang diemban sejak awal. Hal lain yang sedikit menyedihkan pada film ini adalah peran pada karakter manusia. Disini mereka justru seolah menjadi kumpulan pegawai yang bekerja keras untuk kemudian menyaksikan boss (Godzilla) mereka yang menuai hasilnya. Kesalahan utamanya adalah terbatasnya peran Bryan Cranston dan sedikitnya waktu bagi Juliette Binoche, koneksi mereka kuat dan ketika berganti menjadi Taylor-Johnson dan Elizabeth Olsen semua perlahan berubah menjadi kurang menarik. Keberhasilan Edwards pada bagian ini adalah bagiamana ia sukses membatasi porsi tiap karakter tanpa menjadikan masing-masing dari mereka tampak sebagai karakter klasik yang menjengkelkan. Ya, dengan porsi yang sedikit lebih besar mungkin unsur manusia yang menjadi fokus lain itu akan mampu bertahan hingga akhir, tidak tenggelam begitu saja ketika Godzilla hadir.

Overall, Godzilla adalah film yang cukup memuaskan. Nilai minus pada unsur drama yang tampil kurang kuat berhasil menjauh dari kesan mengganggu berkat kemampuan Gareth Edwards yang sepertinya paham bagaimana cara mempresentasikan sebuah kekacauan. Ada kombinasi dalam komposisi yang pas, bersama score yang mumpuni momentum terus terjaga dan mampu menutupi cerita yang terasa mentah dibeberapa bagian, mempertahankan dengan teliti tujuan utama yang ia bawa dalam alur dengan koneksi yang simple dan efektif, dan yang terpenting ia paham bagaimana memanipulasi dan bermain-main dengan sumber daya yang ia punya untuk melakukan update pada sosok ikonik ini. A good orchestra.

Godzilla+Movie+Film+2014+-+Sinopsis.jpg
godzilla-4.jpg
Godzilla.jpg

Download Film Godzilla (2014) Subtitle Indonesia BRRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 640x272
Durasi: 2 Jam - 03 Menit - 07 Detik
Size: 267 MB
SS:
Godzilla_2014_Blu_Ray_Rye_Movies_mp4_thu
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/a1rlnmir7h62
UF: http://adf.ly/rOEOR
US: http://adf.ly/rOEOS
HF: http://adf.ly/rOEOT
UP: http://adf.ly/rOEOU
BU: http://adf.ly/rOEOU

Subtitle: e: br-godzilla-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Download Film Godzilla (2014) Subtitle Indonesia BRRip AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x220
Durasi: 2 Jam - 03 Menit - 07 Detik
Ukuran: 232 MB
SS:
Godzilla_2014_Blu_Ray_Rye_Movies_mp4_thu
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/mduq2l04hydf
SB: http://adf.ly/rOHXe
UF: http://adf.ly/rOHXf
US: http://adf.ly/rOHXg
HF: http://adf.ly/rOHXh
UP: http://adf.ly/rOHXi
BU: http://adf.ly/rOHXj
Subtitle: e: br-godzilla-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Godzilla (2014) 3D BluRay 1080p 5.1CH Half-SBS x264
File Format : MKV
Encoder: SHQ
Resolusi: 3D 1080p BluRay x264-SPRiNTER
Durasi: 2 Jam - 03 Menit - 07 Detik
Ukuran: 1.7 MB
SS:
9fc496346989969.jpg?resize=424%2C181
Download Single Link:
Click here...
IDUP.IN: http://idup.in/fomnc3l7ap1y

Subtitle: e: br-godzilla-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

Jumat, 19 Desember 2014

Annabelle (2014) WEB-DL + Subtitle Indonesia

Annabelle (2014)



annabelle-webdl.jpg
zvbzx21.png
Released Date 3 October 2014
Country USA
Language English
Genre Horror | Thriller
Director John R. Leonetti
Writers Gary Dauberman
Starcast Starcast Ward Horton,
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Apakah anda sebelumnya memang tahu bahwa akan ada film dengan judul Annabelle yang rilis di bioskop? Atau justru anda tahu ketika sedang membeli tiket dan melihat poster bergambarkan boneka yang bisa dibilang menjadi salah satu andalan sutradara bernama James Wan? Aneh memang, meskipun menyandang status sebagai saudara, spin-off, ataupun prekuel dari The Conjuring, namun hype yang film ini hasilkan tidak begitu besar. Upaya setengah hati? Atau hanya memanfaatkan daya jual sang boneka yang memang masih besar itu? Annabelle, an undynamic horror with useless main weapon.

John Gordon (Ward Horton) dan istrinya, Mia Gordon (Annabelle Wallis) mungkin bisa dikatakan sebagai pasangan yang aneh jika tidak ingin disebut unik. Mia meminta sebuah boneka antik yang telah lama ia inginkan sebagai hadiah menjelang kelahiran anak perempuan mereka, Leah, dan John dengan senang hati memenuhi permintaan istrinya tersebut.

Masalahnya adalah boneka tersebut bukannya patung plastik berukuran kecil dengan tampang menarik yang manis dan cantik layaknya Barbie dan putri-putri di kartun Disney, melainkan sebuah boneka dengan ekspresi yang mengerikan. Berawal dari ekspresi, boneka bernama Annabelle itu mulai membawa hal-hal mengerikan bagi keluarga Gordon. Sebuah peristiwa terkait tetangga mereka yang merupakan pemuja setan menjadi penyebabnya, dimana ada sesuatu yang tetangga mereka itu tinggalkan didalam Annabelle, sebuah kutukan.

John memang telah membuang Annabelle ke tong sampah atas permintaan Mia, namun ketika mereka telah berada di apartement baru Mia dan John harus kembali bertemu dengan Annabelle, karena ternyata boneka dengan senyuman dan mata yang creepy itu belum mendapatkan apa yang inginkan dari Mia dan John.

Memnag sepakat dengan mereka yang mengatakan bahwa horor merupakan salah satu genre yang penuh intrik ketika ia dibangun. Sulit untuk menemukan sesuatu yang murni baru dari genre ini, cerita yang familiar dari rumah hantu hingga kerasukan setan, momen-momen mengejutkan yang diawali dengan ketenangan, bunyi-bunyi serta sosok-sosok aneh yang seolah malu- malu untuk menunjukkan wujudnya, mereka terasa sempit, dan pada dasarnya para filmmaker di genre horor mayoritas melakukan daur ulang dengan sedikit modifikasi kecil yang bahkan terasa implisit pada karya terbaru mereka, serta memanfaatkan formula klasik yang masih menjadi kegemaran penontonnya.

Ya, kegemaran, penonton datang, takut- takuti mereka dengan menggunakan elemen-elemen tadi, mereka takut, filmmaker berhasil. Hal tersebut yang menjadi masalah dari Annabelle, bukan hanya skala kecil tapi dalam kuantitas yang besar dan merusak. Semuanya ada, dari suasana tenang yang creepy, istri yang lemah, pengusiran setan, hingga aksi bermain hide and seek, tapi ketimbang duduk nyaman dan merasa terombang- ambing bersama cerita dengan terus memasang mode waspada, waktu justru sering saya habiskan untuk mencoba merasa terlibat didalam cerita.

Apakah hal tersebut penting? Ya, itu sebuah trik ketika anda mendapatkan film horor yang sudah sangat lemah dari segi cerita. Bukan mengatakan ia harus tidak klasik dan basi, tapi cara John R. Leonetti menggunakan kisah yang ditulis oleh Gary Dauberman untuk menarik masuk penonton kedalam cerita tidak halus, anda tahu ada boneka mengerikan, anda tahu ia akan menghantui karakter manusia, dan anda tahu bencana akan tiba di akhir cerita, cukup sampai disitu. Yap, tentu saja kita akan dengan mudahnya memasang ekspektasi pada boneka tersebut, yang juga menjadi alasan lahirnya rasa kecewa ketika pada akhirnya kita tahu bahwa ia tidak lebih seperti tempelan tanpa guna dan tanpa makna.

Annabelle adalah alasan utama penonton datang ke teater, Annabelle adalah senjata utama, tapi disini ia hanya duduk manis tanpa pernah menebar sensasi yang mumpuni, menyibukkan kita dengan berbagai hal-hal aneh yang terjadi pada karakter lain, bahkan hanya sebatas menebak dan menanti apakah ia akan mengedipkan matanya. Ini yang terasa sangat mengecewakan, karena ketika tahu cerita tidak lebih dari mix-up dari berbagai materi klasik film horor, kemudian gagal terjebak didalam atmosfir cerita, harapan terakhir terletak pada Annabelle itu sendiri yang sayangnya juga tidak mampu memberikan terror yang menarik.

Tidak mengharapkan ia bergerak untuk kemudian membunuh layaknya Chucky, ini bahkan lebih terasa seperti permainan psikologis, tapi mengapa menciptakan sebuah film khusus bagi karakter yang mereka harapkan dapat menjadi ikonik tapi tidak menaruh upaya menjadikan karakter itu tampak menarik sebagai prioritas utama?

Dramatisasi yang terlalu over, kejutan- kejutan yang terlalu murahan dan tidak efektif, closeup berantakan, sensasi yang miskin, ini adalah kemasan yang dipaksakan eksistensinya, lebih sebagai ajang uji coba sembari memanfaatkan kesuksesan The Conjuring tahun lalu, copy paste sana-sini dengan sedikit modifikasi, kemudian taruh sebuah boneka sebagai fokus utama yang akan mengalihkan atensi penonton dari betapa kasar dan tidak menariknya alur cerita yang ia sajikan.

Apakah Annabelle tidak punya hal positif? Sepuluh menit pertama ia menarik, dan sebuah scene dengan menggunakan elevator itu harus diakui berhasil memberikan paranoia baru yang kuat, selebihnya adalah petualangan ibarat sebuah mobil yang bermasalah di sistem pembakaran, terkadang ia berjalan, berhenti, berjalan lagi, dan berhenti lagi, terasa kasar dan tidak mengalir untuk memanfaatkan permainan suasana yang ia punya, tidak mampu menggenggam kuat atensi penonton dan menjauhkan mereka dari rasa monoton, dan celakanya itu hadir dalam penceritaan yang seperti mencoba untuk terbakar secara perlahan.

Hal positif lainnya mungkin penampilan cukup mumpuni dari Annabelle Wallis, yang memang faktanya tidak punya saingan yang mumpuni dalam mendominasi cerita setelah Annabelle yang menjadi senjata utama ditempatkan sebagai rest area bagi penonton setelah disibukkan dengan berbagai masalah yang menimpa Mia.

Overall, Annabelle adalah film yang tidak memuaskan. Bukan sesuatu yang salah mencoba memanfaatkan kesempatan yang tersedia setelah The Conjuring yang sukses itu, tapi bukan berarti itu hanya sebatas melemparkan sebuah boneka dengan tampang menakutkan untuk menghibur penontonnya bersama berbagai elemen klasik yang dibentuk tidak dinamis dan terasa setengah hati sehingga tidak memberikan sensasi yang menarik akibat eksekusi yang terasa sangat kasar itu. Jangan heran ketika telah merasa bosan selama satu jam lebih anda mungkin akan merasa tertipu setelah tahu Annabelle ternyata adalah boneka yang berperan sebagai “boneka” pemanis dalam cerita. Before The Conjuring might be a better title.

Annabelle%2B(2014)%2Bimage.jpg
Tony-Amendola-in-Annabelle.jpg
annabelle_a.jpg

Download Film Annabelle (2014) WEB-DL Subtitle Indonesia MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 44 Detik
Size: 238 MB
SS:
Annabelle_2014_WEB_DL_Rye_Movies_mp4_thu
Download Single Link:
Click here...
UC: https://userscloud.com/vv3ivrdcq49u
TF: http://www.tusfiles.net/t4lqws9rbgb4
UF: http://adf.ly/vMnRX
HF: http://adf.ly/vMnRY
UP: http://adf.ly/vMnRa
BU: http://adf.ly/vMnRb
SF: http://adf.ly/vMnRc

Subtitle: webdl-annabelle-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Download Film Annabelle (2014) WEB-DL Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x260
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 44 Detik
Ukuran: 184
SS:
Annabelle_2014_WEB_DL_Rye_Movies_Snapsho
Download Single Link:
Click here...
UC: https://userscloud.com/kyufr9olzu02
SB: http://adf.ly/vMnRe
UF: http://adf.ly/vMnRf
HF: http://adf.ly/vMnRh
UP: http://adf.ly/vMnRj
BU: http://adf.ly/vMnRl
SF: http://adf.ly/vMnRn

Subtitle: webdl-annabelle-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Annabelle (2014) WEBRip
File Format : MKV
Encoder: SHQ
Durasi: 1 Jam - 38 Menit - 39 Detik
Ukuran: 450 MB
SS:
d1e630358545943.jpg?resize=421%2C188
Download Single Link:
click here...
IDUP.IN: http://idup.in/i3rijlyud10f

Subtitle: webdl-annabelle-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

Transformers: Age of Extinction (2014) + Subtitle Indonesia

Transformers: Age of Extinction (2014)



bluray-transformers-age-o.jpg
zvbzx21.png
Released Date 26 June 2014
Country USA | China
Language English
Genre TULIS | SINI
Director Michael Bay
Writers Ehren Kruger
Starcast Nicola Peltz
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Meskipun tanpa kehadiran Shia LaBeouf, Josh Duhamel, Tyrese Gibson dan Rosie Huntington-Whiteley, seri terbaru dari adaptasi mainan laris Hasbro ini tampaknya masih tidak banyak berubah, semuanya karena sang “dalang” lama masih setia berada di belakang kamera, kembali menghadirkan kehancuran dan keributan yang tidak jauh-jauh dari pendahulunya.

Setelah sempat mengatakan emoh menukangi seri-seri masa depan Transformers pasca Dark of The Moon (Sebelumnya Revange of The Fallen juga), Micahel Bay kembali menjilat ludahnya sendiri. Ya, sepertinya susah buat Bay untuk menahan godaan besar ini sekali lagi, meskipun instalemen ke-empat yang diberi tajuk Age of Extinction ini diproyeksikan sebagai era baru sekaligus reboot halus buat kisah Optimus Prime dan teman-teman Autobots-nya, sekali lagi sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru di Age of Extinction.

Ceritanya sendiri bersetting empat tahun setelah insiden pertempuran besar Autobots dan Decepticons di Chicago. Setelah itu semuanya tidak lagi sama, khususnya bagi para alien robot yang kini tidak bisa sembarangan lagi muncul ketika pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan Harlod Attinger (Kelsey Grammer) memberlakukan aturan “Cemetery Wind” untuk memburu tidak hanya Decepticons namun juga geng Autobots yang tersisa dan membinasakan mereka untuk selamanya dengan bantuan alien pemburu Transfomers, Lockdown.

Sementara di tempat lain, di pedalaman Texas ada Optimus Prime bersembunyi dengan tenang, tetapi itu tidak lama ketika ilmuwan robot amatir yang juga seorang single father, Cade Yeager (Mark Whalberg) yang tinggal bersama putri tunggalnya, Tessa (Nicola Peltz) menemukan dirinya tanpa sengaja dan memulai segala kekacauan ini.

Dengan lebel “awal baru” buat para robot luar angkasa, seperti yang tertulis di atas sebenarnya tidak ada yang benar- benar baru di sini kecuali jajaran cast manusianya yang dirombak habis dan hanya meninggalkan sang kapten Optimus Prime (masih disuarakan Peter Cullen) dan tangan kanan setianya, si kuning Bumblebee di jajaran para alien robot.

Tentu saja sebagai penonton yang sudah mengecap semua serinya pasti tidak berharap banyak ada sesuatu yang istimewa di Age of Extinction dan memang kenyataan seperti itu. Dengan durasi 165 menit, Age of Extinction menjadi terasa sangat lama, paling lama dibandingkan seri- seri pendahulunya. Subplot percintaanya digantikan dengan hubungan ayah-anak tidak memberi sesuatu yang benar-benar berarti di naskahnya yang masih digarap Ehren Kruger, kualitasnya masih sama dangkalnya, masih sama membosankannya dengan segudang plot hole menganggu.

Dan tidak lupa, selalu ada komedi di sela- sela peperangan para roboat yang untung saja kali ini tidak sampai senorak Dark of The Moon yang seperti ingin menjadi film komedi ketimbang aksi. Tentu saja porsi aksinya tetap didapuk untuk menjadi daya pikat nomor satu. Bay kembali membawa berton-ton bahan peledak yang sudah disiapkan untuk menghadirkan momen- momen aksi spektakuler. Meskipun kali ini kehancuran Chicago tidak sampai separah Dark of The Moon, sekuen demi sekuen pertarungan yang melibatkan para Autobots dan robot-robot muktahir ciptaan Ilmuwan sombong KSI, Joshua Joyce (Stanly Tucci) masih digarap fantastis bersama efek-efek CGI yang sudah di-upgrade lebih canggih dan Hong Kong mendapatkan ‘kehormatan’ untuk diacak-acak Michael Bay bersama bintangnya yang tengah bersinar, Li Bingbing yang didapuk menjadi Su Yueming untuk mengaet penonton negeri tirai bambu yang saat ini sudah mejadi potensi besar box-office luar Amerika.

Tetapi kalau mau jujur aksi-aksi yang terjadi di Age of Extinction sebenarnya sama membosankannya dengan narasinya, tidak ada sesuatu yang memorable, semuanya masih sama berisiknya seperti yang pernah dihadirkan Bay sebelumnya, dan kali ini terasa terlalu lama. Bagian terbaik Age of Extinction dipegang oleh kehadiran para Dinobot yang keren sayang kemunculan para Legendary Knight itu terlalu sebentar. Lalu juga kehadiran Lockdown yang tangguh memberi keasikan teersendiri.

Transformers+Age+of+Extinction+(2014)+im
Transformers%20Age%20of%20Extinction.jpg
Transformers-4-Age-of-Extinction-Grimloc

Download Film Transformers: Age of Extinction (2014) BluRay Subtitle Indonesia MP4 High Quality
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 45 Menit - 07 Detik
Size: 387 MB
SS:
Transformers_Age_of_Extinction_2014_Blu_
Download Single Link:
Click here...
UF: http://adf.ly/sBkRh
US: http://adf.ly/sBhVy
HF: http://adf.ly/sBhW0
UP: http://adf.ly/sBhW1
BU: http://adf.ly/sBhW2
TF: http://www.tusfiles.net/ba4ibg797esw
Subtitle: br-tfagex-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Download Film Transformers: Age of Extinction (2014) BluRay Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x220
Durasi: 2 Jam - 45 Menit - 07 Detik
Ukuran: 313 MB
SS:
Transformers_Age_of_Extinction_2014_Blu_
Download Single Link:
Click here...
TF: http://www.tusfiles.net/cpw5i9jd70s8
UF: http://adf.ly/sBlk7
US: http://adf.ly/sBlk8
UP: http://adf.ly/sBlkB
BU: http://adf.ly/sBlkC
HF: http://adf.ly/sBlkA

Subtitle: br-tfagex-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Transformers: Age of Extinction (2014) IMAX BluRay 1080p 5.1CH x264
File Format : MKV
Encoder: SHQ
Resolusi: IMAX 1080p BluRay x264-EVO
Durasi: 2 Jam - 45 Menit - 07 Detik
Ukuran: 2.4 GB
SS:
855617352658329.jpg?resize=401%2C218
Download Single Link:
http://mylinkgen.com/p/MjE5MQ
IDUP.IN: http://idup.in/aczqqf7dzfez

Subtitle: br-tfagex-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

The Raid 2: Berandal (2014) 360 , 720 & 1080p

The Raid 2: Berandal (2014)



the-raid-2-2014-bdrip.jpg
zvbzx21.png
Released Date 28 March 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Action | Crime
Director Gareth Evans
Writers Gareth Evans
Starcast Iko Uwais
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Terlepas dari kesuksesan megah yang berhasil diraih oleh The Raid : Redemption (2012) – baik sebagai sebuah film Indonesia yang mampu mencuri perhatian dunia maupun sebagai sebuah film yang bahkan diklaim banyak kritikus film dunia sebagai salah satu film aksi terbaik yang pernah diproduksi dalam beberapa tahun terakhir – tidak ada yang dapat menyangkal bahwa film garapan sutradara Gareth Huw Evans tersebut memiliki kelemahan yang cukup besar dalam penataan ceritanya.

Untuk seri kedua dari tiga seri yang telah direncanakan untuk The Raid, Evans sepertinya benar-benar mendengarkan berbagai kritikan yang telah ia terima mengenai kualitas penulisan naskahnya. Menggunakan referensi berbagai film aksi klasik seperti The Godfather (1972) dan Infernal Affairs (2002), Evans kemudian memberikan penggalian yang lebih mendalam terhadap deretan karakter maupun konflik penceritaan sekaligus menciptakan jalinan kisah berlapis yang tentu semakin menambah kompleks presentasi kisah The Raid 2: Berandal. Lalu bagaimana Evans mengemas pengisahan yang semakin rumit tersebut dengan sajian kekerasan nan brutal yang telah menjadi ciri khas dari The Raid?

Dengan jalan cerita yang berjalan sekitar dua jam setelah berbagai peristiwa yang terjadi dalam The Raid : Redemption, The Raid 2: Berandal mengisahkan mengenai Rama (Iko Uwais) yang kini telah bergabung dengan sebuah pasukan khusus pimpinan Bunawar (Cok Simbara) yang memiliki misi untuk membongkar keterlibatan para polisi dalam berbagai organisasi kriminal. Untuk menjalankan misinya, Rama diharuskan membuang identitas dirinya untuk kemudian mendekati sekaligus memasuki sebuah organisasi kriminal besar yang dipimpin oleh Bangun (Tio Pakusadewo).

Berbekal dengan persahabatan yang ia jalin dengan putera tunggal Bangun, Uco (Arifin Putra), Rama mulai mendapatkan kepercayaan Bangun dan secara perlahan memulai investigasinya pada orang-orang yang terlibat dalam jaringan kriminal pimpinan Bangun. Intrik ternyata tidak berhenti hanya pada usaha Rama dalam menjalankan misi rahasianya. Di saat yang bersamaan, keterlibatannya yang semakin mendalam dalam organisasi kriminal pimpinan Bangun ternyata turut menyeretnya dalam konflik internal yang mulai memanas antara Bangun dan Uco.

Uco yang merasa bahwa sang ayah sama sekali tidak akan pernah memberikan kesempatan baginya untuk duduk di kursi pimpinan, mulai menyusun rencana untuk melakukan kudeta bersama dengan seorang kriminal lain bernama Bejo (Alex Abbad) yang semenjak lama juga telah mengincar beberapa wilayah yang selama ini berada dibawah kekuasaan Bangun. Terjebak diantara misi pribadi dan konflik internal sebuah organisasi kriminal, Rama harus segera memutar otaknya untuk dapat menyelesaikan tugas sekaligus menyelamatkan nyawanya di saat yang bersamaan.

Berbeda dengan The Raid : Redemption yang lebih mengunggulkan kehadiran presentasi adegan aksinya yang demikian brutal daripada meluangkan waktu lebih banyak dalam menggali berbagai unsur penceritaannya, Gareth Huw Evans jelas terlihat berusaha untuk menghadirkan plot penceritaan yang lebih kompleks, berlapis dan mendalam bagi The Raid 2: Berandal. Sebuah usaha yang tidak mudah – dan Evans sesungguhnya masih terasa sedikit terbata-bata dalam menghadirkan jalan cerita yang ingin ia sampaikan.

Beberapa masalah yang muncul dalam perwujudan naskah cerita film yang lebih kompleks arahan Evans tersebut adalah seperti ketidakmampuan Evans dalam mengelola beberapa konflik sehingga terasa menggantung, penyampaian yang masih terasa bertele-tele sehingga beberapa kali terasa mengganggu kedinamisan jalan penceritaan maupun sikap “serakah” Evans dalam menghadirkan terlalu banyak lapisan cerita namun gagal untuk memberikan pengembangan yang lebih meyakinkan. Deretan problema tersebut juga masih ditambah dengan beberapa kerikil kecil seperti inkonsistensi dalam penyusunan dialog yang juga hadir dalam susunan naskah cerita The Raid : Redemption namun masih belum dapat dihilangkan dalam jalan cerita The Raid 2:

Berandal. Jadi apakah perubahan yang dilakukan Evans berdampak buruk bagi kualitas presentasi The Raid 2: Berandal secara keseluruhan? Sama sekali tidak! Evans harus diakui adalah sosok sutradara yang cukup cerdas. Ia tahu persis mengenai apa yang ia inginkan untuk hadir dalam filmnya, baik dari segi cerita, karakter maupun perwujudan visual filmnya. Karenanya, terlepas dari masih terbatasnya kemampuan Evans dalam merangkai jalinan cerita, The Raid 2: Berandal masih mampu dibekali dengan karakter-karakter kuat yang akan berhasil mencuri perhatian setiap penontonnya.

Tidak seperti di film sebelumnya dimana banyak karakter terasa hanya menjadi sosok pelengkap bagi kehadiran adegan aksi, karakter justru menjadi pusat penceritaan dalam The Raid 2: Berandal. Karakter-karakter inilah yang menggerakkan penceritaan, memicu kehadiran konflik dan akhirnya meledakkan deretan adegan aksi dalam film ini. Dan layaknya The Raid : Redemption, Evans kembali menghadirkan deretan koreografi aksi yang kini tidak hanya terasa semakin brutal namun juga tampil begitu indah dalam eksekusinya berkat dukungan tata kamera yang begitu handal dari Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono. Tata musik arahan Aria Prayogi, Joseph Trapanese dan Fajar Yuskemal juga membantu meningkatkan serta menjaga intensitas emosional penceritaan di sepanjang presentasi film. Peningkatan kualitas yang cukup mengesankan.

Berbicara mengenai karakter, selain mendapatkan penggalian yang lebih mendalam, kehadiran deretan karakter dalam jalan cerita The Raid 2: Berandal juga menjadi lebih kuat berkat kemampuan para pemerannya dalam menghidupkan karakter- karakter tersebut. Didukung dengan penampilan aktor-aktor watak seperti Cok Simbara, Tio Pakusadewo, Oka Antara hingga aktor asal Jepang, Kenichi Endo, karakter-karakter yang mereka perankan jelas akan mampu meninggalkan kesan lebih mendalam jauh setelah penonton selesai menyaksikan film ini. Iko Uwais sendiri juga mampu memberikan peningkatan kemampuan akting yang signifikan dalam film ini. Kemampuannya dalam mengolah dialog terdengar jauh lebih baik dan lebih hidup dari apa yang dihadirkannya dalam The Raid : Redemption.

Kredit yang sama juga layak disematkan pada Arifin Putra dan Alex Abbad yang mampu membawakan karakter mereka dengan begitu baik. The Raid 2: Berandal juga didukung dengan penampilan singkat namun begitu mengesankan dari duet Julie Estelle dan Very Tri Yulisman yang begitu dinamis, Epy Kusnandar yang selalu berhasil mencuri perhatian, Cecep Arif Rahman yang tampil dengan koreografi laga yang begitu mematikan hingga kemunculan kembali Yayan Ruhian dalam karakter baru namun tetap akan mampu membuat banyak penonton berdecak kagum karenanya.

Jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan bahwa Gareth Huw Evans tidak serta merta menghadirkan The Raid 2: Berandal dengan mengandalkan formula kesuksesan The Raid : Redemption yang sama. Jangan salah. Dalam film ini, Evans masih mengandalkan kehadiran deretan adegan aksi nan brutal yang dikoreografikan dengan indah untuk kembali memikat penontonnya. Evans bahkan meningkatkan dosis adegan aksinya dan mengeksplorasi formula andalannya dengan sajian darah yang lebih kental. Namun, lebih dari The Raid : Redemption, The Raid 2: Berandal hadir dengan komposisi penceritaan yang juga lebih berani dan matang. Secara berani, Evans menyusun naskah cerita filmnya dengan karakter-karakter yang lebih kuat serta jalinan cerita yang lebih kelam dan kompleks. Tidak selamanya berjalan sukses. Kemampuan bercerita Evans mungkin masih belum seunggul kekuatan visinya dalam merangkai adegan aksi – yang membuat beberapa puluh menit durasi film ini terasa sedikit berjalan lamban dan bertele-tele.

Meskipun begitu, The Raid 2: Berandal jelas merupakan sebuah kemajuan yang sangat signifikan dari seri sebelumnya. Sebuah kemajuan yang mampu menunjukkan bahwa Evans adalah salah satu sutradara film aksi paling cerdas dan dinamis di dunia sekaligus potensi sangat besar yang dimiliki oleh seri The Raid selanjutnya untuk menjadi salah satu film aksi terbaik sepanjang masa.

The-Raid-2-Berandal-Hammer-Girl-Julie-Es
raid-2-berandal08-the-raid-2-berandal-re
the-raid-2:-berandal-%282014%29.jpg

Download The Raid 2: Berandal (2014) Subtitle Indonesia BDRip MP4 High Quality:
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 640x272
Durasi: 2 Jam - 30 Menit - 27 Detik
Size: 354 MB
SS:
The_Raid_2_2014_BDRip_Rye_Movies_mp4_thu
Download Single Link:

TF: http://www.tusfiles.net/8wvwn91xecp3
UF: http://adf.ly/plC5W
US: http://adf.ly/qtqX6
HF: http://adf.ly/qEUx5
UP: http://adf.ly/qtqOh
BU: http://adf.ly/qtqUj

Subtitle: bd-theraid-2-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Download Film The Raid 2: Berandal (2014) Subtitle Indonesia BRRip AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x320
Durasi: 2 Jam - 30 Menit - 27 Detik
Ukuran: 251 MB
SS:
The_Raid_2_2014_BDRip_Rye_Movies_Snapsho
Download Single Link:

SB: http://adf.ly/plTk0
UF: http://adf.ly/plFEe
HF: http://adf.ly/plTva
UP: http://adf.ly/plTtG
TF: http://www.tusfiles.net/aafule2qgrmg
Subtitle: bd-theraid-2-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: er1ck9
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


The Raid 2 (2014) BluRay 1080p 5.1CH x264
File Format : MKV
Encoder: SHQ
Resolusi: BluRay 1080p
Durasi: 2 Jam - 30 Menit - 27 Detik
Ukuran: 2.0 GB
SS:
The_Raid_2_2014_BDRip_Rye_Movies_Snapsho
Download Single Link:
http://mylinkgen.com/p/MjE0
IDUP.IN: http://idup.in/umz2595h0utk

Subtitle: bd-theraid-2-2014.zip | More
Bahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: er1ck9
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8

Kamis, 18 Desember 2014

Kamar 207 (2014) DVDRip 360p & 480p

Kamar 207 (2014)



kamar-207-2014.jpg
zvbzx21.png
Released Date 24 Juli 2014
Country Indonesia
Language Indonesian
Genre Horror
Director Chiska Doppert
Writers Hotnida Harahap
Starcast Maxime Bouttie
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8
My Fan Page Apa%2BItu%2BFanPage.png


SINOPSI:


Echa, Cacha, Revan, dan Rangga, penyuka segala hal yang kuno dan mistis, membantu proses penyembuhan seorang anak kecil yang kerasukan. Sukses mereka ini lalu diterbitkan dalam blog mereka: Jampi-jampi. Di tempat lain, Pak Rebo, manajer hotel Mary's Inn, bertekad ingin berhenti. Shasi, pemilik hotel warisan dari ayahnya, terpaksa mengurus hotel tersebut sendirian. Masalahnya, sejak ayah Shasi meninggal dunia, penunggu hotel yang bernama Mary sering menunjukan penampakan dan menakut-nakuti seisi hotel, hingga hotel tersebut tidak laku.

Shasi, yang punya indra keenam, mengambil keputusan untuk tetap berada di hotel itu, meski dia tahu harus menghadapi ketakutannya akan penampakan- penampakan di hotel tersebut. Tetapi, dia juga bisa menemukan cara untuk mengatasi patah hatinya setelah ditinggal tunangannya. Hal pertama yang dilakukannya adalah memanggil pengusir setan. Dia menemukan blog Jampi-jampi, dan memanggil Chaca, Revan dan Rangga.

Mary's Inn menyimpan satu kamar angker yaitu kamar 207. Di kamar itu sering terdengar suara perempuan menangis dan benda-benda di situ bisa bergerak sendiri. Arwah yang ada di hotel itu adalah arwah pengantin yang bunuh diri bernama Mary. Mary dulunya warga keturunan Belanda yang melawan kehendak orangtuanya dengan menyintai orang pribumi.

Pada saat hari pernikahannya, pengantinnya tidak datang. Mary pun bunuh diri dengan menggunakan baju pengantin. Sejak itu, Mary lebih banyak menakut-nakutin laki-laki di hotel itu. Dan juga merasuki tubuh orang-orang dan membuatnya menyakiti diri sendiri. Terutama, mereka yang masih single.

Screenshot_25.png
Screenshot_26.png
Screenshot_27.png


Download Film Kamar 207 (2014) DVDRip Subtitle Indonesia MP4 High Quality: File Format: mp4
File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 1 Jam - 27 Menit - 07 Detik
Size: 192 MB
SS:
Kamar_207_2014_DVDRip_Rye_Movies_mp4_thu
Download Single Link:
Click here...
UC: http://adf.ly/vN9KD
TF: http://www.tusfiles.net/l0g7zw43qpqg
UF: http://adf.ly/vN9KC
HF: http://adf.ly/vN9KE
UP: http://adf.ly/vN9KF
BU: http://adf.ly/vN9KG
SF: http://adf.ly/vN9KH

Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Download Film Kamar 207 (2014) DVDRip Subtitle Indonesia AVI Normal Quality:
File Format : avi
Video Encode: MPEG4 (Xvid)
Audio Encode: MP3 (Mono)
Resolusi: 500x288
Durasi: 1 Jam - 27 Menit - 07 Detik
Ukuran: 164 MB
SS:
Kamar_207_2014_DVDRip_Rye_Movies_Snapsho
Download Single Link:
Click here...
UC: http://adf.ly/vNBrz
TF: http://www.tusfiles.net/sj220imfdfwk
SB: http://adf.ly/vNBNd
UF: http://adf.ly/vNBrw
US: http://adf.ly/vNBry
HF: http://adf.ly/vNBs0
UP: http://adf.ly/vNBs1
BU: http://adf.ly/vNBs2
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Kamar 207 (2014) DVDRiP 480p 350 MB
File Format : MKV
Encoder: SHQ
Resolusi: 480p
Durasi: 1 Jam - 27 Menit - 07 Detik
Ukuran: 350 MB
SS:
Kamar_207_2014_DVDRip_Rye_Movies_Snapsho
Download Single Link:
Click here...
Tusfiles:
http://adf.ly/vLuBa
http://adf.ly/vLuBb
http://adf.ly/vLuBc
Cara Download Di Tusfile Via Opera Mini
Cara Melewati Adfly Via Opera Mini


Attentions!!


Aplikasi untuk HANDPHONE yang di gunakan untuk memutar film dan cara pakainya? baca disini...! Baca di sini...!

Ada Link tidak bisa dibuka atau broken link atau masalah lainya?Silahkan beri komentar
Follow My Blog 84ac2f5ddba545993ce2a51ee147a0b508d05ea8